Sebuah laporan dari Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus (CAMS) mengungkapkan bahwa pada 2026, hampir 40% manusia di Bumi akan terpapar ozon dalam jumlah tinggi, dengan wilayah Asia menjadi yang paling parah terdampak. Peningkatan polusi udara akibat aktivitas manusia menjadi salah satu penyebab utama. CAMS melaporkan bahwa lebih dari setengah populasi dunia masih terpapar tingkat polusi udara yang tidak sehat.
Kadar ozon yang berbahaya dapat meningkat akibat interaksi nitrogen oksida dari asap kendaraan dan polutan lainnya, terutama di musim panas ekstrem. Di Asia, enam dari sepuluh orang menghirup ozon pada tingkat sangat buruk. Di Indonesia, karhutla di Kalimantan yang dipicu oleh El Niño mendorong kadar partikel halus hingga ratusan mikrogram per meter kubik. Di Eropa, gelombang panas berulang menyebabkan separuh penduduk mengalami kualitas udara yang buruk.
CAMS menggunakan data satelit dan pengukuran lapangan untuk mengukur konsentrasi ozon, dengan pedoman WHO menetapkan ambang batas aman pada 60 mikrogram per meter kubik. Ketika melebihi 110 mikrogram per meter kubik, kualitas udara dianggap sangat buruk. Solusi untuk mengatasi masalah ini termasuk penerapan kebijakan pengurangan polutan yang telah dilakukan di Eropa selama beberapa dekade.
WHO merekomendasikan agar masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan saat ozon berada di tingkat tinggi, terutama untuk anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dengan prakiraan ozon yang kini tersedia, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah mitigasi untuk melindungi diri dari dampak buruk ozon.





Komentar 0