Pemerintah Indonesia, melalui Presiden Prabowo Subianto, berencana untuk memproduksi bensin dari batu bara sebagai langkah untuk meningkatkan ketahanan energi. Rencana ini menyusul keberhasilan program B50 yang menggunakan campuran minyak kelapa sawit, yang memungkinkan Indonesia untuk mandiri dalam produksi solar sejak 1 Juli 2026. Sementara itu, China telah lebih dahulu mengembangkan teknologi konversi batu bara menjadi berbagai produk energi, termasuk minyak dan gas, untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi di tengah ketidakpastian geopolitik.
Mongolia Dalam, sebagai wilayah penghasil batu bara terbesar di China, berencana membangun basis konversi batu bara untuk meningkatkan pasokan energi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor. Namun, pengembangan industri ini juga menghadapi tantangan terkait emisi karbon, dan pemerintah Mongolia Dalam berupaya menyeimbangkan pemanfaatan batu bara dengan energi bersih.
Komentar 0