Di Kecamatan Jagoi Babang, Bengkayang, seorang guru bernama Asep Dea mengajarkan siswa tentang pentingnya mengenali rupiah sebagai uang resmi Indonesia. Dalam lingkungan perbatasan yang dekat dengan Malaysia, Asep menekankan bahwa mengenalkan rupiah bukan hanya soal nilai uang, tetapi juga menanamkan identitas nasional. Ia percaya bahwa pendidikan tentang rupiah dapat dimulai dari kelas, membantu anak-anak memahami pentingnya menjaga kedaulatan uang mereka.
Di Toko Victory, yang dikelola Fanny, masyarakat tetap menggunakan rupiah meskipun sering melayani pembeli dari Malaysia. Penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari menjadi kebiasaan yang tidak perlu diperdebatkan. Fanny menyatakan bahwa harga barang di tokonya tetap menggunakan rupiah, menunjukkan komitmen terhadap mata uang nasional.
Masyarakat perbatasan kini juga semakin terbantu dengan layanan keuangan yang lebih dekat berkat digitalisasi. Meskipun masih ada tantangan jaringan internet, keberadaan agen perbankan dan layanan digital memudahkan masyarakat dalam bertransaksi. Perubahan ini menunjukkan kemajuan dalam sistem ekonomi di kawasan perbatasan, di mana penggunaan uang tunai dan transaksi digital mulai berimbang.
Komentar 0