Palembang, yang pernah menjadi kesultanan terkaya di Nusantara, terkenal akan kekayaannya yang tidak bergantung pada pajak. Sejak masa Sultan Baddaruddin, perdagangan komoditas seperti lada dan timah menjadi sumber utama pendapatan. Lada Palembang, yang sangat diminati di Eropa, menarik perhatian VOC, yang ingin menguasai perdagangan tersebut.
Walau VOC berhasil menguasai monopoli, masyarakat tetap melakukan perdagangan bebas di luar kendali mereka. Selain lada, timah dari Bangka juga menyumbang kekayaan yang signifikan, dengan penjualan mencapai 1.250 ton per tahun. Catatan perjalanan oleh Alfred Russel Wallace menunjukkan kemakmuran masyarakat Palembang, meskipun tidak semua penduduk menikmati hasilnya secara merata.





Komentar 0