Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang terjadi sepanjang 2026 telah menguji ketahanan energi global, termasuk Indonesia yang kehilangan 25 persen sumber impor BBM akibat konflik di kawasan tersebut. Kementerian ESDM mencatat bahwa harga minyak mentah Indonesia mengalami lonjakan, dengan Indonesian Crude Price (ICP) mencapai 105-106 dolar AS per barel pada pertengahan Oktober 2026. Meskipun pemerintah berupaya menjaga harga BBM bersubsidi, dampak dari kenaikan harga BBM non-subsidi terlihat jelas dalam perubahan biaya transportasi dan pola konsumsi masyarakat.
Direktur Program INDEF, Eisha Maghfiruha, menyatakan bahwa ketidakpastian geopolitik dapat mengganggu perekonomian Indonesia melalui kenaikan biaya logistik dan produksi, serta risiko peningkatan beban subsidi energi. Kajian INDEF memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia tertekan 0,21 persen akibat lonjakan harga energi, dengan inflasi meningkat 0,28 persen dan impor melonjak 7,8 persen. Konsekuensi ini menunjukkan bahwa tantangan energi lebih luas dari sekadar masalah ketersediaan BBM.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan Pertamina perlu memperkuat kapasitas produksi domestik dan mencari sumber impor alternatif. Pertamina telah mengambil langkah diversifikasi sumber pasokan dari berbagai wilayah, termasuk Afrika dan Amerika Serikat, untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah. Namun, penguatan kapasitas domestik tetap menjadi prioritas agar Indonesia dapat lebih siap menghadapi fluktuasi harga energi global.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menekankan pentingnya meningkatkan produksi migas domestik untuk menjaga ketersediaan energi. Upaya memperkuat ketahanan energi harus diimbangi dengan peningkatan produksi migas, diversifikasi sumber impor, dan pengelolaan pasokan yang efektif. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia harus terus beradaptasi dengan dinamika global dalam pengelolaan energi untuk memastikan keberlanjutan pasokan.
Komentar 0