Di Afghanistan, sopir taksi mulai melawan larangan ketat pemutaran musik yang diterapkan oleh pemerintah Taliban dengan memutar lagu-lagu di dalam mobil mereka. Meskipun ada risiko ditangkap oleh polisi moral, beberapa sopir tetap berani memainkan musik folk dan pop Afghanistan, meski harus mematikannya saat melihat petugas. Larangan ini ditegakkan oleh Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, yang berpatroli di seluruh kota.
Banyak warga merasa tertekan dan merindukan kebebasan untuk menikmati musik, yang dianggap sebagai bagian penting dari budaya mereka. Situasi ini menciptakan ketegangan antara keinginan untuk menikmati seni dan ketakutan akan hukuman dari otoritas.
Komentar 0