Konsep lazy economy, yang awalnya populer di China, kini menyebar ke Indonesia. Istilah ini merujuk pada gaya hidup yang mengutamakan efisiensi waktu dan tenaga melalui layanan otomatis. Banyak yang salah memahami konsep ini sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan, padahal sebenarnya orang yang menggunakan layanan tersebut seringkali sedang membeli waktu yang lebih berharga daripada uang.
Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh konsumen urban di Indonesia telah terbiasa memesan makanan melalui aplikasi. Lazy economy dapat dipahami sebagai ekonomi kemudahan produktif, yang bertujuan mengurangi pekerjaan rutin agar waktu dapat digunakan untuk hal yang lebih bernilai. Hal ini sejalan dengan gerakan slow living, yang menekankan pentingnya memanfaatkan waktu yang tersisa secara bijak.
Dalam konteks Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), banyak pelaku usaha yang masih mencatat keuangan secara manual, meskipun telah terbiasa dengan pembayaran digital. Teknologi pencatatan otomatis berbasis kecerdasan buatan kini hadir untuk membantu mereka mengelola keuangan dengan lebih baik. Waktu dan energi yang terselamatkan seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan kualitas hidup, seperti ketenangan hati, harta yang cukup, hidup bermartabat, dan berbagi dengan sesama.
Komentar 0