Lotte Underwood, seorang lulusan baru, kini bekerja sebagai eksekutif PR di perusahaan Fight or Flight di London, menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengelola agen AI daripada melakukan PR tradisional. Dia bagian dari tim AI yang baru dibentuk, yang bertugas melakukan riset industri dan mempersiapkan laporan untuk klien. Perusahaan kini juga mulai menciptakan peran khusus untuk lulusan yang berfokus pada AI, seperti yang dilakukan Dillan Patel di Stride. CEO ArvatoConnect, Debra Maxwell, menekankan pentingnya lulusan yang dapat memikirkan penerapan AI secara holistik untuk pertumbuhan perusahaan.
Penelitian dari PwC menunjukkan bahwa beberapa peran lulusan kini memiliki tanggung jawab lebih besar akibat AI, dengan peran entry-level yang kini tujuh kali lebih mungkin membutuhkan keterampilan yang biasanya dimiliki oleh posisi senior. Cian Clinton, lulusan baru lainnya, menggunakan sekitar 10 agen AI dalam pekerjaannya dan merasa kemajuannya dalam karir akan lebih cepat karena peran yang lebih besar yang diembannya. Meskipun mereka mengembangkan pengetahuan AI yang berharga, ada kekhawatiran bahwa lulusan menjadi terlalu terfokus pada AI, sehingga mengabaikan keterampilan profesional lainnya.
Simon Pratt dari Portman Finance Group menekankan pentingnya pelatihan tradisional bagi lulusan, dengan rotasi kerja yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan mendasar. Claire Reed dari PwC UK juga berpendapat bahwa peran lulusan harus seimbang antara keterampilan teknis dan pemahaman mendalam tentang bidang yang mereka masuki. Keseimbangan ini penting untuk memastikan lulusan tidak hanya mengandalkan AI tetapi juga menguasai bidang mereka secara menyeluruh.


Komentar 0