Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia mengalami peningkatan signifikan sebesar 38% pada periode Januari hingga September 2026, dibandingkan dengan tahun 2019 yang merupakan tahun terburuk karhutla. Selama periode tersebut, sekitar 1,9 juta hektare lahan terbakar, dengan 20% di antaranya adalah lahan gambut. Kalimantan menjadi wilayah terluas dengan 684.142 hektare yang terbakar, diikuti Papua dan Bali-Nusa Tenggara.
David Gaveau dari The TreeMap, yang menyampaikan data ini dalam acara Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), menyatakan bahwa jumlah titik panas meningkat 63% dibandingkan periode yang sama pada 2019. Meski begitu, proyeksi kebakaran di bulan Oktober mungkin lebih tinggi, namun dipengaruhi oleh kondisi asap dan awan yang menghalangi pemantauan satelit.
Lebih dari 14.500 hektare kebakaran terjadi di area konsesi sawit bersertifikat RSPO, dengan dua konsesi menyumbang 45% dari total tersebut. CEO RSPO, Joseph D'Cruz, menyebutkan perlunya analisis lebih lanjut terkait penyebab kebakaran dan langkah perbaikan yang harus diambil untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.





Komentar 0