Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan agar kebijakan penggunaan sawit untuk biofuel lebih fleksibel. Dalam kondisi harga minyak bumi yang tinggi, GAPKI mendorong subsidi untuk biodiesel, namun saat harga minyak sawit tinggi, sebagian dapat dialihkan ke ekspor. Hal ini penting karena peningkatan konsumsi sawit domestik dapat mengurangi pasokan untuk ekspor, sehingga berdampak pada pendapatan negara dari pungutan ekspor.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sarjono, menjelaskan bahwa proyeksi ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia bisa turun 3-4 juta ton pada 2027 akibat peningkatan konsumsi domestik. Produksi sawit Indonesia dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan, dengan kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan meningkat dari 12,4 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 14 juta ton pada 2026 dan 17 juta ton pada 2027.
Untuk mengantisipasi penurunan ruang ekspor, GAPKI meminta peningkatan produktivitas perkebunan, terutama melalui program peremajaan sawit rakyat. Selain itu, mereka juga menyarankan pemerintah untuk menyiapkan kawasan khusus pengembangan sawit yang didedikasikan untuk kebutuhan energi, agar tidak mengganggu pasokan pangan maupun ekspor.
Komentar 0