Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada periode Januari hingga Agustus 2026 mengalami surplus sebesar 40,18 juta dolar AS. Surplus ini diperoleh dari nilai ekspor yang mencapai 43,82 juta dolar AS, sementara nilai impor hanya 3,64 juta dolar AS. Meskipun surplus tercatat, nilai ekspor NTT mengalami penurunan 10,04 persen dibandingkan tahun lalu, terutama pada sektor nonmigas yang turun sebesar 11,57 persen.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan mendominasi ekspor dengan kontribusi sebesar 82,53 persen. Selain itu, kapal terbang dan bagiannya menjadi komoditas dengan peningkatan ekspor tertinggi, naik 145,41 persen. Tiga negara tujuan utama ekspor NTT adalah Timor Leste, Turki, dan Jepang, dengan Timor Leste menyerap 81,94 persen dari total ekspor.
Di sisi lain, nilai impor NTT selama periode yang sama tercatat sebesar 3,64 juta dolar AS, turun signifikan hingga 47,19 persen dibandingkan tahun lalu. Timor Leste juga menjadi negara pemasok barang impor terbesar, menyuplai hampir 88 persen dari total nilai impor NTT. Penurunan nilai impor ini menunjukkan adanya penyesuaian dalam kebutuhan barang dari luar.
Kondisi perdagangan ini mencerminkan dinamika ekonomi NTT, di mana meskipun ada surplus yang positif, penurunan nilai ekspor harus menjadi perhatian untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional.
Komentar 0