Penyaluran bantuan pembiayaan perumahan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih jauh dari target. Hingga 25 September 2026, realisasi penyaluran FLPP baru mencapai 158.010 unit dari target 350.000 unit, yang berarti masih ada 191.990 unit yang harus dikejar hingga akhir tahun.
Tantangan dalam mengejar target ini termasuk meningkatnya biaya pembangunan akibat inflasi dan harga lahan yang tinggi, serta batas harga rumah subsidi yang tidak mengalami penyesuaian sejak 2024. Data menunjukkan inflasi pada sektor konstruksi mencapai lebih dari 10%, yang menekan margin pengembang.
Selain itu, kendala dalam aspek perizinan, pemanfaatan tata ruang, dan penyediaan infrastruktur juga menjadi penghambat. Permintaan dari masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) pun terhambat karena banyak yang terjerat pinjaman konsumtif, dan lokasi rumah subsidi dianggap tidak strategis.
Untuk mengatasi masalah ini, BP Tapera melakukan sosialisasi program KPR Sejahtera FLPP dan berkoordinasi dengan instansi terkait. Mereka juga merencanakan akad massal pada Desember mendatang dan sedang menyusun kebijakan untuk rumah recycle agar penyaluran FLPP dapat tercapai.
Komentar 0