Gunung Anak Krakatau kini memiliki luas 341,5 hektare, melampaui ukuran sebelum erupsi dan kolaps pada Desember 2018 yang mencapai 300 hektare. Data ini diperoleh dari pemantauan citra Satelit Sentinel oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) per 15 September 2026. Setelah bencana longsoran, luas daratan sempat menyusut menjadi 246,18 hektare, namun akumulasi material erupsi terus berlangsung hingga saat ini.
Riset kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan beberapa universitas internasional menunjukkan bahwa Anak Krakatau berada dalam fase rekonstruksi. Peneliti BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa gunung api ini mengalami siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Peristiwa kolaps pada 2018 mengubah morfologi dan gaya erupsi, namun sejak 2019, aktivitas erupsi kembali bertransisi ke tipe Strombolian.
Pertumbuhan yang tidak simetris di sektor barat daya dan timur laut dipengaruhi oleh kondisi geologi dan stabilitas lereng. Dinamika kestabilan lereng Anak Krakatau akan terus dipengaruhi oleh perkembangan tubuh gunung dan sistem magma.
Komentar 0