Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai penguatan industrialisasi sebagai kunci untuk mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah. Ia menjelaskan bahwa masalah pelemahan rupiah bersifat struktural, terutama akibat deindustrialisasi yang mengurangi kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB, kini hanya sekitar 18 persen. Hal ini membatasi kemampuan industri dalam menghasilkan barang untuk pasar internasional, yang berimbas pada kinerja perdagangan dan transaksi berjalan.
Fithra menekankan bahwa ketergantungan industri terhadap bahan baku impor memperburuk situasi, karena pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya produksi. Ia mengusulkan agar Indonesia memperkuat industrialisasi dengan memproduksi barang-barang yang selama ini diimpor, guna mengurangi ketergantungan tersebut. Penguatan industri diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal.
Sementara itu, pada penutupan perdagangan Rabu, nilai tukar rupiah menguat 66 poin menjadi Rp17.818 per dolar AS, setelah sebelumnya berada di Rp17.884 per dolar AS.
Komentar 0