Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah saat ini dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah, yang menyebabkan harga minyak tetap tinggi di atas 100 dolar AS per barel. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko inflasi global dan menekan outlook fiskal.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan pada nilai tukar juga disebabkan oleh kebutuhan valas dari importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik. BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui pengelolaan suku bunga dan intervensi pasar yang konsisten.
Erwin menambahkan bahwa BI akan terus melakukan intervensi melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Meskipun rupiah melemah, pergerakannya masih sejalan dengan mata uang regional, dan posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
Komentar 0