Arab Saudi menghadapi krisis serius setelah jalur pipa minyaknya ditutup akibat serangan milisi Houthi dari Yaman. Penutupan ini terjadi setelah konflik antara AS dan Iran yang mengganggu Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak utama. Meskipun awalnya Saudi diuntungkan dengan harga minyak yang tinggi, serangan Houthi yang terus menerus memaksa Riyadh menutup jalur pipa darat yang menghubungkan Abqaiq dan Yanbu.
Penutupan ini mengancam rencana diversifikasi ekonomi kerajaan dan dapat meningkatkan inflasi global. Otoritas Inggris memperkirakan penutupan ini bisa berlangsung lebih dari sebulan, berpotensi merugikan pendapatan ekspor Saudi hingga puluhan miliar dolar. Ekonomi Saudi diperkirakan akan mengalami kontraksi hingga 4,5 persen jika situasi ini berlanjut, yang lebih buruk dari dampak pandemi Covid-19.
Situasi ini juga menguji kemampuan Mohammed bin Salman dalam mendapatkan dukungan internasional untuk menghadapi Houthi.
Komentar 0