Anak Krakatau mengalami lonjakan erupsi luar biasa setelah keruntuhan pada 2018, mengeluarkan magma setara dengan 10 tahun dalam waktu dua pekan. Prof. Sebastian Watt dari University of Birmingham menjelaskan bahwa keruntuhan tersebut menghilangkan sekitar 350 meter batuan dari saluran magma, menyebabkan peningkatan laju erupsi.
Meskipun laju erupsi masih tergolong tinggi hingga 2023, terdapat tanda-tanda penurunan. Watt memperkirakan bahwa jika pola pertumbuhan berlanjut, laju erupsi akan semakin lambat. Namun, belum ada bukti jelas bahwa Anak Krakatau telah berubah menjadi gunung api dengan gaya erupsi baru, sehingga perlu pemantauan lebih lanjut untuk memahami perkembangan sistem magma.
Komentar 0