Ulta Levenia Nababan, mantan Deputi di Kantor Staf Presiden, kembali menjadi sorotan setelah mengaitkan erupsi sejumlah gunung berapi di Indonesia dengan proyek HAARP milik Amerika Serikat. Dalam unggahannya di Instagram, Ulta menyatakan bahwa meskipun bencana alam mungkin terjadi secara natural, ia membuka kemungkinan adanya teori konspirasi terkait proyek tersebut. Ia menyoroti keterlibatan lembaga militer AS dalam pendanaan HAARP dan mengaitkannya dengan kepentingan geopolitik.
Pakar Vulkanologi dari UGM, Agung Harijoko, menanggapi pernyataan Ulta dengan menegaskan bahwa erupsi gunung berapi adalah proses geologi alami yang tidak ada hubungannya dengan teknologi HAARP. Ia menambahkan bahwa fenomena erupsi enam gunung berapi di Indonesia baru-baru ini dapat dijelaskan secara ilmiah tanpa melibatkan teori konspirasi.
Sementara itu, Kepala KSP Dudung Abdurachman menegaskan bahwa Ulta tidak lagi menjadi bagian dari KSP, sehingga pernyataannya tidak mencerminkan sikap resmi pemerintah. Polemik ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang berbasis bukti dalam diskusi mengenai bencana alam dan teknologi.
Komentar 0