Pembukaan rekening massal yang direncanakan pemerintah Indonesia dengan anggaran mencapai Rp11 triliun dinilai tidak mendesak oleh para pengamat. Mereka menekankan perlunya perbaikan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk penyaluran bantuan sosial yang lebih efisien. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk memperluas inklusi keuangan, namun para ahli menyoroti kurangnya transparansi dan urgensi di tengah kondisi fiskal yang sulit. Program ini akan dilaksanakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan target 200 juta rekening sebelum akhir 2026. Para pengamat mengingatkan perlunya kajian mendalam dan transparansi agar tidak menimbulkan kesan kebijakan populis menjelang pemilu.
Polemik pembukaan rekening massal habiskan Rp11 triliun APBN - 'Sangat tidak mendesak saat kondisi fiskal sulit'
✨ Ringkasan oleh senci AI
Komentar 0