Beberapa hari terakhir, masyarakat merasakan perubahan suasana udara yang lembap meski hujan belum turun secara rutin. Kelembapan udara tinggi menunjukkan banyaknya uap air di atmosfer, meski tidak selalu disertai hujan. Saat suhu udara panas dan kelembapan tinggi, proses penguapan keringat menjadi lambat, membuat tubuh terasa lebih lengket dan gerah.
Fenomena ini dapat terjadi menjelang peralihan musim, di mana kandungan uap air meningkat. Untuk hujan, diperlukan kondisi atmosfer yang mendukung, seperti pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan. Oleh karena itu, meski hujan belum rutin, udara bisa terasa lembap, terutama saat awan mulai tumbuh di siang atau sore hari.
BMKG menyatakan bahwa saat ini sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau, dengan curah hujan rendah hingga menengah. Kondisi atmosfer aktif dapat menyebabkan pertumbuhan awan di wilayah tertentu, meskipun secara umum masih kering. Beberapa daerah mungkin mengalami hari-hari kering sementara yang lain sudah mendapatkan hujan lokal.
Komentar 0