Jasad ABK kapal Arupadhatu yang membawa lima jurnalis ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, pada akhir September. Prof Agus Saleh Atmadipoera dari IPB University menjelaskan bahwa pergerakan jasad tersebut dipengaruhi oleh faktor alam seperti gelombang, angin, dan arus laut. Kapal yang dianggap mati mesin ini bergerak terombang-ambing oleh arus laut ke arah barat laut menuju perairan Enggano, dan dalam dua hari diperkirakan sudah memasuki Samudra Hindia.
Prof Agus menambahkan bahwa posisi awal kapal menentukan pola lintasan pergerakan jasad. Jika berada di sisi utara Selat Sunda, jasad akan terbawa langsung ke Pulau Enggano, sedangkan jika berada di sisi selatan, pergerakan lebih kompleks. Untuk menemukan jasad korban lainnya, ia merekomendasikan penggunaan teknologi pemetaan satelit, yang saat ini tersedia 12 jenis satelit beresolusi tinggi.
Ia juga mendorong tim gabungan SAR dan Basarnas untuk memanfaatkan pola arus sebagai acuan dalam menyusun area pencarian. Selain itu, penting bagi pemerintah untuk berkoordinasi dengan nelayan lokal di sekitar Selat Sunda hingga Enggano untuk meningkatkan efektivitas pencarian.
Komentar 0