Tokenisasi aset kini memasuki fase serius dengan institusi mulai memanfaatkannya untuk collateral, margin, dan pengelolaan likuiditas. Laporan Citi menunjukkan bahwa 27 persen broker dan bank berencana menggunakan sekuritas on-chain untuk menjamin obligasi dan kas tokenisasi pada 2027, menandai pergeseran signifikan di pasar modal. Hingga 2026, 77 persen perusahaan diperkirakan telah menggunakan tokenized collateral dalam berbagai bentuk aset seperti obligasi dan kripto.
Perubahan ini tidak hanya sekadar format aset, tetapi juga bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah pergerakan collateral, terutama saat sistem tradisional tidak aktif. Ryan Marsh dari Citi menyatakan bahwa tokenisasi memungkinkan pengelolaan risiko dilakukan secara real-time, mengatasi batasan sistem lama yang menyebabkan banyak collateral menganggur dan tidak produktif. Hal ini dapat mengurangi potensi kerugian pendapatan yang signifikan bagi perusahaan.
Sementara itu, regulator AS mulai membuka jalan bagi adopsi tokenisasi di sektor keuangan dengan kebijakan baru dari SEC dan inisiatif dari CFTC. Di Eropa, ECB juga mulai melirik investasi pada sekuritas tokenisasi. Citi berupaya mengembangkan model treasury yang memungkinkan representasi token RWA, membuka peluang untuk memindahkan nilai aset secara lebih efisien. Arah ini menunjukkan bahwa implementasi tokenisasi aset semakin mendekati kenyataan.
Komentar 0