Gelombang panas ekstrem akibat El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga Februari mendatang, mengancam nyawa sekitar 450.000 orang. Penelitian dari Climate Impact Lab di Universitas Chicago menunjukkan bahwa lonjakan kematian akan terjadi terutama di belahan bumi selatan, seiring dengan musim semi dan panas. Peneliti memperkirakan tambahan 240.000 kematian dari September hingga Februari, dengan total 450.000 jika dihitung sejak El Nino dimulai pada Juni lalu.
Dampak terparah diprediksi akan terjadi di Afrika, khususnya Nigeria dengan lebih dari 30.000 kematian tambahan. Di Indonesia, diperkirakan ada 19.000 kematian akibat fenomena ini, yang paling rentan adalah lansia dan bayi.
Komentar 0