Institute for Essential Services Reform (IESR) mendorong negara-negara Asia Tenggara untuk memperkuat integrasi rantai pasok teknologi energi bersih. Farid Wijaya dari IESR menekankan pentingnya pengembangan spesialisasi industri dan kerja sama manufaktur regional agar kawasan tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu memproduksi teknologi bernilai tambah tinggi. Dengan pertumbuhan ekonomi tahunan sekitar 5,5 persen, permintaan listrik di ASEAN diperkirakan meningkat 4 persen per tahun hingga 2035.
Indonesia dan Filipina memiliki peran penting dalam rantai pasok mineral global, namun kapasitas pengolahan mineral masih terbatas. Untuk itu, diperlukan kebijakan industri yang kuat dan investasi terkoordinasi agar negara-negara ASEAN tidak hanya mengekspor bahan mentah.
Komentar 0