Setiap tahun, pemerintah Indonesia mengadakan seremonial penyerahan alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, meskipun ada peningkatan signifikan dalam jumlah alsintan yang didistribusikan, manfaatnya tidak dirasakan secara merata oleh petani. Data menunjukkan bahwa banyak petani kecil tetap harus membayar sewa alat, dan akses mereka terhadap alsintan modern masih terbatas. Hanya 46,84 persen petani yang menggunakan alsintan, sementara sisanya masih bergantung pada cara tradisional. Masalah ini diperparah oleh struktur pertanian yang tidak mendukung, di mana banyak petani memiliki lahan kurang dari 0,5 hektare. Selain itu, mekanisasi juga menyebabkan pergeseran tenaga kerja, yang berdampak pada buruh tani, khususnya perempuan dan pekerja usia lanjut. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan harus berfokus pada penyediaan alat yang sesuai dengan skala lahan dan manajemen operasional yang lebih baik, bukan hanya pada jumlah unit yang didistribusikan.
Alsintan Banyak, Manfaat Sedikit: Kenapa Modernisasi Pertanian Indonesia jalan di tempat?
Komentar 0